Senin, 19 April 2010

Suluk-sulukSunan Bonang

Karya-karya Sunan Bonang yang dijumpai hingga sekarang dapat dikelompokkan menjadi dua: (1) Suluk-suluk yang mengungkapkan pengalamannya menempuh jalan tasawuf dan beberapa pokok ajaran tasawufnya yang disampaikan melalui ungkapan-ungkapan simbolik yang terdapat dalam kebudayaan Arab, Persia, Melayu dan Jawa. Di antara suluk-suluknya ialah Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Kaderesan, Suluk Regol, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Pipiringan, Gita Suluk Latri, Gita Suluk Linglung, Gita Suluk ing Aewuh, Gita Suluk Jebang, Suluk Wregol dan lain-lain (Drewes 1968). (2) Karangan prosa seperti Pitutur Sunan Bonang yang ditulis dalam bentuk dialog antara seorang guru sufi dan muridnya yang tekun. Bentuk semacam ini banyak dijumpai sastra Arab dan Persia.

Kawruh Tembang Jawa

Tembang jawa mocopat wonten 11 (sewelas) cacahe, kang gambarake jejering manungsa awit wonten garbane ibu ngantos kapundut ing ngarsane kang Maha Kuwaos, nggih meniko :
Tembang jawa mocopat dapat digolongkankan menjadi 11 tembang, yang menggambarkan jalannya kehidupan manusia sejak didalam kandungan ibunda sampai meninggalnya untuk menghadap Yang Maha Kuasa, yaitu :

Petruk Dadi Ratu

petruk dadi ratu
nyangga pincuk udut crutu
ratu suralaya
patuhe narada

Makna TembangJawa

Makna dan arti dari pada setiap syair dan lirik tembang jawa itu pada dasarnya mempunyai pengertian dan kandungan yang sangat mendalam. Kalau kita kaji secara mendalam mengandung ajaran ataupun falsafah bagi kehidupan kita semua. Coba kita simak tembang dandanggula ini :
sakehing kan dumadi makardi
lir Hyang Widhi kan tansah makarya

Kidung Rumeksa Ing Wengi

Kidung Rumeksa Ing Wengi
Ana kidung rumekso ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani

Sastra Jawa

Jawa Timur adalah propinsi tempat kediaman asal dua suku bangsa besar, yaitu Jawa dan Madura, dengan tiga sub-etnik yang memisahkan diri dari rumpun besarnya seperti Tengger di Probolinggo, Osing di Banyuwangi dan Samin di Ngawi. Dalam sejarahnya kedua suku bangsa tersebut telah lebih sepuluh abad mengembangkan tradisi tulis dalam berkomunikasi dan mengungkapkan pengalaman estetik mereka.
Kendati kemudian, yaitu pada akhir abad ke-18 M, masing-masing menggunakan bahasa yang jauh berbeda dalam penulisan kitab dan karya sastra – Jawa dan Madura – akan tetapi kesusastraan mereka memiliki akar dan sumber yang sama, serta berkembang mengikuti babakan sejarah yang sejajar.

Kempalan Tembang Macapat Wayang Kancil

Kaserat dening : Ki Ledjar Subroto ing Kitha Ngayogjakarta, 1985
Kempalaning Tembang Macapat ngewrat carios Kancil anggitanipun Ki Ledjar Subroto, kangge kabetahan menawi nindakaken ringgit Kancil.

DHANDHANGGULA (1)
Kababar dongeng nama sang kancil,
Dipun beber dadya wujud wayang,
Dimen gampang caritane,
Tur cetha yen kadulu,
Dadya budaya kang lestari,